Halal Bihalal 1439 H Departemen Teknik Kimia ITS Meriah dan Penuh Kekeluargaan

Sebagai rasa syukur dan dalam rangka semakin menjalin kekeluargaan setelah puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1439 H di kalangan civitas akademika, Departemen Teknik Kimia FTI – ITS menyelenggarakan halal bihalal tanggal 28 Juni 2018. Halal bihalal ini dihadiri sebagian besar dosen, dan tenaga pendidik (tendik). Selain itu para dosen yang sudah purna tugas, perwakilan alumni Teknik Kimia (Altekim) serta Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (Himatekk) ikut memeriahkan acara tersebut. Acara dimulai pukul 10:00 WIB bertempat di Aula Oedjoe Djoeriaman – Departemen Teknik Kimia yang diawali dengan pembacaan ayat – ayat suci Al-Qur`an (Farid Hidayat, ST.) beserta sari tilawah (Dewi Puspitasari, ST.), kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Departemen, Juwari, Ph.D. Dalam sambutannya, Juwari menyampaikan bahwa prestasi – prestasi yang dicapai Departemen Teknik Kimia baik dari dosen, tendik dan mahasiswa tidak lepas dari peran para pendahulu dan alumni. Mulai dari akreditasi yang selalu A bagi semua Prodi S1, S2 dan S3, sertifikasi Prodi S1 dari AUN-QA serta persiapan akreditasi internasional oleh IABEE (Indonesian Accreditation Board for Engineering Education) merupakan capaian Departemen Teknik Kimia ITS untuk memantapkan dalam persaingan global. IABEE sendiri merupakan lembaga akreditasi internasional yang mengacu pada Washington Accord sebagai salah satu standar akreditasi internasional bidang teknik. Dalam prosesnya, IABEE menekankan pada implementasi pendidikan berbasis capaian pembelajaran (outcome based education), sehingga diharapkan mampu menjamin proses perbaikan yang berkelanjutan.

Sedangkan sambutan Altekim ITS diwakili oleh Sekretaris Umum Pengurus Pusat Altekim ITS, Ir. Arief Wisnu. Dalam pemaparannya, Wisnu menyampaikan bahwa saat ini peran dan sumbangsih alumni Teknik Kimia FTI ITS tidak hanya terbatas sebagai profesional, tetapi juga di pemerintahan. Setidaknya ada dua alumni berdasarkan quick count dari sejumlah lembaga survey dalam Pilkada serentak tahun 2018 berhasil keluar sebagai pemenang. Ir Siti Rohmi Djalilah (K-27) dan Dr. Ir. Farid Al Fauzi, MM (K-28) masing – masing mendapatkan suara terbanyak sebagai Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bupati Bangkalan. Di akhir paparan, Wisnu berharap semoga hasilnya quick count linear dengan real count oleh KPU serta semakin banyak lagi alumni yang berkarya bagi bangsa dan negara. Sambutan lainnya, disampaikan oleh perwakilan dosen yang sudah purna tugas, Ir. Abdullah, MS. Dalam sambutan tersebut, Abdullah menyampaikan Departemen dan alumni Teknik Kimia ITS harus bisa membaca perkembangan dan kebutuhan masyarakat dengan ilmu yang dimiliki. Teknik Kimia merupakan jurusan besar, kontribusi terhadap pembangunan Indonesia sangat dinantikan, demikian harapan yang disampaikan oleh Abdullah menyudahi sambutannya.

Acara halal bihalal ini sendiri menghadirkan alumni K – 27 yang juga dosen Departemen Teknik Kelautan FTK ITS , Prof. Ir.Mukhtasor, M.Sc., Ph.D sebagai penceramah. Dalam ceramahnya Mukhtasor menyampaikan bahwa manusia diberikan anugerah oleh Allah SWT berupa akal dan pikiran serta hati. Tidak lain, untuk berfikir. Dalam kajian Islam ada istilah yang disebut dengan tafakur dan tadabur. Semuanya merujuk pada urusan berfikir atau merenung serta imbasnya. Tafakur adalah kegiatan berfikir atau merenungkan segala penomena yang terjadi di alam semesta. Baik itu dari suatu kejadian ataupun dari suatu pengalaman inderawi. Dalam Qur’an surat Ali Imran ayat 190-191, Allah SWT memerintahkan manusia untuk bertafakur:

“Sesungguhnya semua manusia diperintahkan untuk bertafakur menerenungkan tanda-tanda atau fenomena-fenomena alam ciptaan Tuhan, agar timbul kesadaran bahwa dibalik itu ada Dzat Yang Maha Kuasa, Yang Maha Agung, dan Yang Maha Bijaksana yaitu Sang Pencipta, Allah SWT.” Menurut para sufi, Tafakur adalah cara untuk memperoleh pengetahuan tentang Tuhan dalam arti yang hakiki. Para Ulama mengatakan bahwa tafakur itu ibarat pelita hati, sehingga dapat terlihat baik dan buruk maupun manfaat dan mudharat dari segala sesuatu. Sedangkan tadabur adalah suatu gambaran penglihatan hati terhadap akibat-akibat segala urusan. Baik tafakur maupun tadabur, keduanya sama-sama dilakukan dengan menggunakan mata hati. Bedanya, tafakur dilakukan untuk meneliti dalil atau indikator segala sesuatu hal, sedangkan tadabur dilakukan untuk meneliti akibat-akibatnya. Acara halal bihalal diakhiri dengan doa yang disampaikan oleh Setiyo Gunawan, Ph.D yang dilanjutkan sesi foto, salam – salaman, dan ramah tamah. (DAR/GUN)